Ispirasi

Angkringan, Pesona Warung Sederhana dari Jogjakarta

hik1

Kalian tentu sering mendengar istilah Warung Angkringan bukan? Apalagi jika anda adalah warga disekitar Jogja-Solo. Ketika kita membayangkan Angkringan yang terlintas di kepala kita pasti warung dengan tenda yang sederhana dan sering kita temukan di sore hari sampai tengah malam.

Menu favorit dari warung sederhana ini tidak lain adalah Nasi Kucing atau orang Jawa bilang Sego Kucing. Sego Kucing dilengkapi dengan berbagai lauk seperti teri goring, sambal kering, sate telur puyuh, sate ceker, sate usus, dan ikan bandeng goring siap menemani. Sedangkan untuk penghilang dahaganya tersedia beberapa varian jenis minuman es atau hangat seperti es teh, the hangat, es jeruk, jeruk hangat, susu jahe, jahe hangat bahkan kopi bisa anda temukan di warung sederhana ini.
Jogjakarta adalah kota kelahiran dari Warung Angkringan ini. Dari sanalah lalu warung ini menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Semarang. Suasana teduh dan unsur romantisme ternyata membuat warung ini mulai disegani dan disukai di sana. Apalagi tempat ini biasa digunakan untuk sekedar kumpul atau nongkrong anak muda, tentu saja karena biasanya pemilik warung ramah dan menu yang disediakan relatif murah.

Angkring sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti duduk santai. Asal mula warung ini dipopulerkan dari wong cilik untuk wong cilik, wong cilik merupakan istilah jawa yang berarti masyarakat kecil. Begitulah rupanya Angkringan dulunya dibuat untuk orang rendahan.
Meskipun Angkringan mulai populer di Jogjakarta namun orang yang mempopulerkan bukan asli Jogja. Saat itu tahun 1950-an seorang pria yang biasa disebut Mbah Pairo mulai mendirikan usaha Angkringan ini. Mbah Pairo berasal dari Cawas, Klaten.
Mbah Pairo banyak disebut-sebut sebagai pendiri Angkringan di Jogjakarta. Kemudian pada tahun 1969 Mbah Pairo mewariskan usahanya ini pada Lik Man, dia adalah putra dari Mbah Pairo. Lik Man sering berpindah lokasi yang mulanya berada di sebelah utara Stasiun Tugu.
Tidak disangka-sangka saat ini bisnis Angkringan telah menyebar di berbagai pelosok kota Jogja, bahkan untuk menemukan Angkringan bukanlah hal yang sulit saat ini. Angkringan yang dikelola Lik Man merupakan usaha yang paling terkenal saat itu, bukan hanya di Jogja namun di kota-kota sekitarnya seperti Solo dan Klaten.

SONY DSC
Namun ternyata Angkringan jaman dulu tidak menggunakan gerobak untuk sarana promosi. Pada saat Mbah Pairo angkringan berkeliling menggunakan pikulan yang diangkat dibahu. Saat itu Mbah Pairo mengenalkan Angkringan dengan istilah ting-ting hik (baca: hek). Kenapa begitu? Ternyata saat itu penjual atau Mbah Pairo sering berteriak “Hiiik…iyeek” untuk mempromosikan dagangannya. Saat ini istilah HIK diartikan oleh masyarakat sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Hik bisa dengan mudah kita temukan di Solo, namun di Jogja sebutan Angkringan lebih populer.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top