Kesehatan

Prof. Soekirman Kampanyekan Pentingnya Pembangunan Gizi Bagi Masyarakat Lewat Buku

soekirman

Rawuh.com – Prof. Soekirman tengah mengkampanyekan akan pentingnya pembangunan dan gizi. Hal tersebut disebabkan karena pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan mengandalkan ekonomi saja. Untuk mencapai kesejahteraan, pembangunan tidak hanya memerlukan pendidikan, namun juga membutuhkan gizi yang baik untuk masyarakat, khususnya orang miskin.

“Pembangunan juga membutuhkan gizi. Itulah perlunya gizi dan pembangunan yang menyejahterakan rakyat. Berbuat sesuatu yang dirasakan langsung oleh orang miskin,” ungkap Soekirman di peluncuran buku Gizi Pembangunan: Kumpulan Tulisan Prof. Soekirman 1962-2015 di ANZ Tower, Sabtu (1/9/2016).

Sejak dirinya bertugas di Aceh tahun 1960an, Prof. Soekirman senang menulis tentang profesinya yakni kesehatan masyarakat dan gizi. Yang membedakannya dengan ahli gizi lainnya yang hanya menulis mengenai gizi dari aspek makanan dan penyakit, Soekirman lebih banyak menulis mengenai gizi serta ekonomi.

“Buku ini sebenarnya adalah ungkapan syukur karena saya masih dikasih umur sampai 80 tahun. Saya juga sudah menjadi profesor selama hampir 20 tahun. Ada beban moral untuk menghasilkan sesuatu. Jadi saya membuat buku ini supaya mahasiswa saya banyak membaca,” jelas Soekirman.

Soekirman pensiun sebagai pegawai negeri di Bappenas tahun 1996. Sebelumnya ia menjabat sebagai Direktur Kesehatan dan Gizi, selanjutnya di Deputi Bidang Sosial Budaya dan yang terakhir di Deputi Sumber Daya Manusia.Selama 20 tahun di Bappenas, Soekirman menjabat sebagai perencana SDM dibawah kepemimpinan menteri-menteri Widjojo Nitisastro, JB Sumarlin, Saleh Afiff serta Ginandjar Kartasasmita.

Selain itu, di tahun 1974 Soekirman menyandang gelar Master of Professional Studies di bidang Internasional Development (MPS-ID) dan gelar PhD di bidang Internasional Nutrition pada tahun 1983, keduanya dari Cornell University, Ithaca New York.

Sebelum itu smeua, dia sudah meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di FKM UI Jakarta tahun 1969 dan gelar Bsc Gizi dari Akademia Gizi, Kementerian Kesehatan tahun 1960.

Di sisi lain, Prof. Soekirman juga tengah mendirikan Yayasan Fortifikasi Pangan (KFI), yakni yayasan nirlaba non pemerintah dan independen yang hanya memusatkan perhatian guna membantu pemerintah untuk lebih menyehatkan para masyarakat, khususnya yang miskin dengan memperbaiki gizi melalui upaya Fortifikasi Pangan.

Fortifikasi sendiri merupakan teknologi yang digunakan untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan tertentu, misalnya beras, tepung terigu, garam, tepung jagung, gula dan minyak goreng. Fortifikasi juga dilakukan dengan menambahkan satu atau lebih vitamin dan mineral di dalam bahan makanan tertentu. Contohnya, tahun 1994 garam dapur difortifikasi dengan zat yodium, suatu jenis mineral yang sangatlah dibutuhkan oleh tubuh dari sejak berupa janin sampai dewasa dan manula.

“Dengan fortifikasi, pemerintah tidak perlu mengeluarkan uang. Karena biayanya di tanggung oleh produsen atau pabrik. Jadi fortifikasi dinilai kecil dari segi biaya, tetapi manfaatnya cukup besar. ini bahkan menjadi senjata pembangunan bangsa,” tutur Prof. Soekirman.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top